Pesta Demokrasi UPI “PEMILU REMA”
Dalam demokrasi, saya pikir “dia yang disepakati oleh mayoritaslah yang
layak terpilih sebagai seorang pemimpin”. Indonesia adalah negara demokrasi
maka dari itu diadakanlah Pemilu, Pilkada atau pemilihan pemilihan lain yang
dilakukan untuk menentukan pemimpinya agar Pemimpin yang terpilih memiliki
legitimasi dari representasi suara yang ia dapatkan dari hasil pemilu.
Namun hal yang sangat penting adalah partisipasi Masyarakat, karena Pemilu ini
dilaksanakan jelas untuk menentukan siapa yang akan memimpin rakyat. Disini
sangat jelas bahwa masyarakat dituntut agar mampu memilih calon pimpinanya
dengan baik yang jelas akan membawa gagasan yang diinginkanya tanpa ada paksaan
atau intimidasi. Namun yang harus disoroti adalah bahwa tidak semua masyarakat
itu mampu menilai setiap calon yang akan memimpinya, atau bahkan banyak pula
masyarakat yang belum tau akan pentingnya partisipasi dia dalam ikut serta
menentukan pilihan. Sudah jelas bahwa ini adalah tugas kita bersama selain kita
menuntut pihak penyelenggara atau pemerintah harus dapat mensosialisasikan akan
pentingnya masyarakat untuk ikut partisipasi dalam pemilu, ini juga tugas kita
bersama karena hasil dari Pemilu ini akan menentukan nasib kita semua.
Sebentar lagi Kampus UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) yang dinaungi
Bandan Eksekutif Mahasiswa Republik Mahasiswa akan menggelar pesta Demokrasinya
yaitu Pemilu REMA yang akan dilaksanakan beberapa minggu lagi. Ini jelas harus
jadi sorotan kita bersama. Dikala kampus yang seharusnya menjadi poros pergerakan
Kaum Muda, sudah tentu bahwa kita saat ini sangat perlu untuk dapat betul-betul
menentukan siapa orang yang layak uuntuk memimpin kampus ini.
Namun dari beberapa tahun kebelakang Kampus UPI ini nampak sangat minim
partisipasi Mahasiswanya untuk ikut serta dalam Pemilu, dari kurang lebih
34.000 jumlah mahasiswa yang kuliah di UPI nampak hanya 10 ribu sampai 11 ribu
lebih mahasiswa yang menggunakan hak pilihnya., kurang lebih hanya 30% partisipan
yang ikut memilih, kemanakah 70% lagi ?
Nampak ada hal yang harus disikapi secara serius dengan sangat minimnya
partisipan pemilu di Kampus Demokratis ini. memang sepertinya belum ada aturan
dalam Pemilu Rema UPI ini yang mengatur batas minimal suara yang harus
didapatkan oleh calon atau aturan minimal partisipan yang harus ikut
partisipasi dalam pemilu ini agar Calon terpilih dianggap legitimate. Namun saya pikir hal ini tidak begitu perlu
diperdebatkan dulu, soalnya dalam sistem yang dinamakan demokrasi minimal N+1
(50%+1%) itu dianggap suara yang sah, karena suara itu muncul darisetengahnya
lebih masyarakat/mahasiswa dan suara ini dianggap representatif dari masyarakat
dan calon terpilih dianggap betul-betul legitumate.
Ada beberapa hal yang membuat saya berpikir kenapa Partisipan Pemilu di UPI
ini tiap tahunnya sangat minim,
diantaranya :
1. kurangnya sosialisasi
Kurangnya sosilaisasi menurut saya ini juga
terbagi dua yaitu perkara teknis dan ideologis.
a.
Perkara teknis
Kurangnya panitia mensosialisasikan mengenai
waktu dan tempat penyelenggaraan sehingga masih ada sebagian mahasiswa yang
kurang tau akan pelaksanaan pemilu ini. Walaupun sekarang jamannya dunia maya,
kita juga harus menyadari bahwa tidak semua mahasiswa UPI itu dapat mengakses
Sosmed mulai dari memang belum punya Gadjet, tidak adanya kuota walopun punya
gadjet, atau bahkan mereka yang malas membuka informasi. Hal semacam itu tidak
bisa kita pungkiri bahwa memang betul-betul terjadi disekitar kita, sehingga
dengan ramainya sekarang menyebut adalah zamanya media sosial hal ini tidak bisa
jadi satu-satunya ranah yang dipakai oleh panitia untuk alat sosialisasi demi
sampainya informasi kepada seluruh mahasiswa upi, tapi perlu juga gerak nyata
yang sehingga para mahasiswa dapat mendengar atau melihat langsung informasi
mengenai pelaksanaan Pemilihan Umum.
Selain itu perlu juga panitia menentukan waktu
pelaksaan yang memang tidak dilaksanakan diwaktu libur (weekend, libur akhir
semester) hal ini juga harus diperhatikan. Kita tidak dapat menutup mata bahwa
hari libur adalah hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh sebagian bahkan semua
mahasiswa karena setelah hampir satu minggu belajar, mereka butuh waktu untuk
kepentingan mereka sendiri entah mudik ke kampungnya sendiri karena kangen sama
orang tuanya, istirahat, atau bahkan kepentingan peribadi yang tidak bisa
ditinggalkan.
b.
Perkara Ideologis
Ada juga mahasiswa yang memang sudah tau akan
pelaksanaan ini dan tidak dalam keadaan sibuk pula namun mereka tetap tidak mau
menggunakan hak pilihnya, hal ini terjadi karena dia sudah tidak memiliki lagi
kepercayaan terhadap BEM REMA dikarenakan kekecewaan dia terhadap BEM REMA yang
setiap tahunnya tidak memberikan kinerja yang sesuai sebagaimana yang ia
inginkan sehingga mereka menganggap percuma untuk memilih juga toh tidak ada
pengaruhnya kalau memilih pasti setiap tahun juga gitu-gitu aja gak ada
kemajuan.
2. Tidak tahu adanya BEM REMA
Hal ini menurut saya sangat bahaya, walaupun
dalam MOKAKU memang sudah ada perkenalan dari BEM REMA kepada mahasiswa baru,
namun sampai saat ini ternyata masih ada mahasiswa yang bertanya “apa itu BEM
REMA ?”. Entah apa yang terjadi, dia ga ikut MOKAKUkah ? atau emang dia lupa
karena mungkin dia menganggap BEM REMA itu hanya pelaksana MOKAKU saja selepas
itu ga ada lagi BEM REM, entahlah saya pikir bisa saja kalo emang mahasiswa itu
selama kuliah ga pernah terlibat lagi dalam kegiatan BEM REMA atau mungkin
BEMnya ga ada kegiatan atau emang dianya aja yang pemalas, gatau ah intinya
kira-kira seperti itu. Hal ini memang tak bisa dipungkiri juga saya berpikir
seperti itu dan saya pernah dengar secara langsung juga mahasiswa yang bertanya
apa itu BEM REMA.
Hal-hal yang saya sebutkan diatas ini harus jadi perhatian serius terutama
pihak penyelenggara Pemilu karena itulah fenomena yang terjadi agar menjadi
bahan kajian semua demi tercapainya Pemilu yang memang diharapkan yang
betu-betul demokratis, agar tidak ada golongan abu-abu yang menganggap ada atau
tidak adanya BEM REMA. Hal ini juga perlu disikapi agar tidak adanya golongan
yang hanya bisa mengkritik kinerja BEM REMA tanpa ia ikut serta membangun dalam
menentukan pemimpin yang layak untuk dipilih menjadi Presiden BEM REMA
Namun dari beberapa hal yang saya sebutkan diatas yang membuat kenapa
partisipasi pemilu sangat minim, saya juga memiliki beberapa solusi untuk
mengatasi hal itu, diantatranya ;
1.
Massivkan sosilasi dari panitia untuk pelaksaan Pemilu
Rema ini agar semua mahasiswa tahu akan pelaksanaannya, mulai dari perkara
teknis mengenai pelaksanaan waktu dan tempat dan juga perkara ideologis
mengenai seberapa pentingnya untuk ikut serta dalam Pemilu ini.
2.
Sosialisasi dari Calon Presiden yang akan dipilih. Calon
pimpinan harus mampu meyakinkan seluruh mahasiswa UPI yang akan dipimpin bahwa
dirinya beritikad menjadi pimpinan bukan hanya membawa kepentingan dari
sebagian pihak saja, namun dia beritikad mencalonkan diri dengan membawa
gagasan yang memang matang dan siap mengakomodir seluruh aspirasi dari
mahasiswa manapun guna kepentingan bersama seluruh mahasiswa UPI untuk kebaikan
Kampusnya bersama.
3.
Perlunya kerjasama semua pihak selain dari panitia
penyelenggara, karena ini adalah kepentingan bersama dan untuk kebaikan bersama
pula khususnya bagi yang sudah mengerti akan pentingnya untuk ikut
berpartisipasi untuk dapat saling mengajak kepada yang belum sadar akan hal
itu.
Sekian tulisan dari saya, saya hanya ingin mengajak kepada semua untuk mari
kita ikut serta dalam pemilihan ini tanpa membawa kepentingan-kepentingan
peribadi. Sudah saatnya kita menyatu dan kritis dalam memilih pimpinan agar apa
yang kita inginkan guna UPI dapat lebih baik lagi kedepanya ini dapat tercapai
dengan sosok yang akan kita tentukan, tentunya dia yang minimal didalam pikiran
kita masing-masing sudah memiliki keriteria seperti apakah pimpinan yang ideal,
jangan sampai kita malah kabur dari kenyataan dan lepas tanggung jawab akhirnya
tidak mau menentukan pilihan.
Mari turun, kritisi dan tentukan Calon Presiden kita !
Hidup Mahasiswa !
Hidup Rakyat !
Komentar
Posting Komentar